Ikatan Sejarah Masjid Al-Aqsa Dengan Nabi Sulaiman ‘Alaihi Salam

Mesjid Al-Aqsa, awalnya dibangun sekitar 20 tahun sesudah kubah batu di dekatnya, dan bangunan ini ialah masjid terbesar di Yerusalem. Interiornya yang luas, dibagi oleh kolom menjadi tujuh lorong, memungkinkan ruangan-ruangan diaplikasikan oleh lebih dari 4000 Muslim untuk bersujud di lantai berkarpet selama ibadah. Sementara itu, sebelum kita melanjutkan info ini, jikalau anda tinggal di Surabaya dan anda berharap berkunjung ke mesjid ini, anda bisa menerapkan layanan Tour Aqsa Surabaya.

Sebetulnya, semua area Kuil Gunung, yang dikenal umat Islam sebagai Haram esh-Sharif atau Suaka Mulia, termasuk segala kubah kecil, kapel, dan pilar-pilarnya, dianggap sebagai mesjid. Ini adalah website suci ketiga Islam (sesudah Mekah dan Madinah). Seluruh rumit berisi lebih dari 14 hektar bangunan, air mancur, taman, dan kubah.

Kota ini terdiri dari hampir seperenam Kota Tua Yerusalem yang berdinding dan dapat menampung ratusan ribu umat. Nama Masjid Al-Aqsa diterjemahkan sebagai \”mesjid terjauh\”, deskripsi yang terkait dengan Perjalanan Malam Muhammad dari Mekah ke Yerusalem dan kembali ke sana.

Di situs Istana Sulaiman

Pembangunan mesjid diawali pada permulaan abad ke-8 dan telah direkonstruksi berkali-kali. Kubah tertutup timah berasal dari abad ke-11. Kuil Gunung merupakan laman Kuil Yahudi pertama, yang dibangun oleh Nabi Sulaiman (as). Ini juga yaitu lokasi gereja Kristen abad ke-6 yang didedikasikan untuk Perawan Maria, yang dibakar oleh Persia pada tahun 614. Konstruksi mesjid aslinya mungkin merubah sisa-sisa gereja ini.

Selama abad ke-12, Tentara Salib mengaplikasikan masjid ini pertama kali sebagai istana kerajaan mereka, kemudian sebagai markas Ksatria Templar yang baru. Salah satu dari banyak kamar mesjid masih memiliki jendela mawar abad pertengahan yang dimilikinya, dan pada saat itu ialah kapel Tentara Salib.

Auditorium seluas 82 meter kali 55 meter itu mempunyai tujuh baris kolom (disumbangkan oleh sewenang-wenang Italia Benito Mussolini selama restorasi abad ke-20). Tak ada daerah duduk; jemaat duduk, dan bersujud di lantai berkarpet mahal. (Seperti di segala masjid, pengunjung mesti melepas alas kaki mereka dan bukan sebagai pertanda penghormatan, tapi untuk melindungi karpet.) Di belakang mimbar terdapat sebuah batu, mulanya di Dome of the Ascension, yang konon mempunyai jejak kaki kiri Nabi Isa (as).